AKANKAH KITA BERBUAT KARENA ORANG TERDAHULU KITA BERBUAT HAL YANG SAMA?

Ada sepasang suami istri yang baru menikah. Sang suami baru menyadari, ternyata istrinya setiapkali memasak daging, ia selalu memotong bagian ujungnya. Menurutnya, kebiasaan istrinya tersebut cukup aneh. Hingga akhirnya sang suami memberanikan diri untuk bertanya kepada istrinya, “Kenapa setiap kali kau memasak daging, kau selalu memotong bagian ujungnya?” Sang istri menjawab, “Ibuku pemasak daging terbaik sedunia dan ia selalu melakukan hal tersebut.”

“Apakah kau tahu kenapa ibumu melakukan hal itu?” “tidak” “kalau begitu bisakah kita bertanya kepada ibumu?” “ya, silahkan saja” ujar istrinya Sang suamipun menelpon ibu istrinya. “Bu, istriku mempunyai kebiasaan memotong ujung daging ketika hendak memasaknya dan ia berkata ia mencontoh dari yang Ibu lakukan. Bolehkah aku tahu alasannya kenapa ibu melakukan hal tersebut?” Ibu menjawab, “Ibuku pemasak daging terbaik sedunia dan ia selalu melakukan hal tersebut.” “Tahukan Ibu kenapa nenek melakukan hal tersebut?” “tidak” Karena penasarannya, iapun menelpon nenek istrinya. “Nek, istriku mempunyai kebiasaan memotong ujung daging ketika hendak memasaknya dan ia berkata ia mencontoh dari yang Ibu lakukan, dan Ibu mengaku ia mendapat kebiasaan itu dari nenek. Bolehkah aku tahu kenapa nenek melakukan itu?” Nenek menjawab, “Oh simpel saja, dahulu aku tidak mempunyai panci yang cukup besar.” *** Kita seringkali melakukan sesuatu tanpa mengetahui alasannya. Kita hanya mengikuti apa yang orangtua kita, atau orang-orang terdahulu kita lakukan tanpa bertanya kenapa mereka melakukan hal itu. Akankah kita terus melakukan sesuatu tanpa memiliki dasar untuk melakukannya. Bahkan kita tidak tahu apa yang kita lakukan itu salah atau benar. Beruntung bila yang kita lakukan itu adalah suatu yang bermanfaat dan benar, namun bagaimana jika tidak? Bagaimana bila Anda tidak menyadari bahwa Anda kini berada di lingkungan yang merusak? Saatnya untuk bertanya. Saatnya untuk mendasari setiap perbuatan yang kita lakukan. Saatnya untuk merubah diri kita. Saatnya untuk memaknai hidup. Kita bukanlah hidup di dunia ini hanya karena orangtua kita hidup dan melahirkan kita. Kita dilahirkan untuk sebuah tujuan. Maka hiduplah dengan arti, makna, dan tujuan.

One Response

  1. kadang motong bagian ujungnya juga berguna kalo masaknya banyak” tapi tempatnya kecil… iya gak??

    tapi gw gak jago masak sih… maklum, cowok ingusan…

    salam kenal… maen balik juga boleh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: