Mencintaimu… sebuah Kesalahan ???

……….. apa yang kita lihat terkadang hanya merupakan bayangan semu dari apa yang kita rasakan, dan apa yang kita rasakan terkadang hanya merupakan angan-angan kosong dari apa yang kita khayalkan, sementara apa yang kita khayalkan, terkadang merupakan belenggu yang tertanam dalam hati dan jiwa kita yang bebas ……………………

episode satoe
Enam bulan aku menghabiskan waktu disini, sebuah daerah yang banyak membuat satu perubahan yang cukup besar dalam hidupku. Suatu waktu yang entah bisa dikatakan sebentar atau lama, untuk melihat suatu nuansa baru yang mungkin tidak semua orang mempunyai satu persepsi yang sama dalam cara melihat, memandang, merasakan dan mengintepretasikan semuanya. Enam bulan lamanya aku mencoba untuk mengais-ais arti salah satu episode dari kehidupanku yang entah akan mempunyai makna di masa mendatang atau tidak.
Ada banyak torehan duka dan suka selama aku berada ditempat ini. Ada banyak tangis dan canda bertebaran di dalamnya. Ada banyak amarah dan nestapa mengisi hari-harinya. Dan ada banyak asa dan nelangsa tercipta mengiringi detik-detiknya.
Teramat ingin aku untuk mengungkapkan semuanya lewat kata-kata, dengan menuliskan rangkaian kalimat hingga dapat membuat suatu tulisan yang dapat menggambarkan seluruh hal yang kurasakan, kualami, kulihat dan kujalani selama ini. Namun aku merasa begitu susah, begitu sulit untuk menuangkan semuanya dalam suatu aksara yang dapat memberikan kejelasan tentang semua yang kuinginkan. Dan memang sulit sekali aku untuk melakukannya.
Entah terlalu banyak yang ingin kuungkapkan kah… atau terlalu sedikit yang bisa terceritakan….. semua serba tidak menentu jawabannya. Mungkin inilah alasan mengapa semua tidak dapat tertuangkan menjadi suatu cerita, prosa yang dapat mencakup dan merangkum segalanya.
Hidup yang kualami disini terkadang datar tanpa adanya suatu gejolak yang membawaku naik ke atas membentuk suatu gelombang naik, ataupun suatu jurang curam yang membawaku turun atau bahkan terpuruk.

Namun terkadang tebing ataupun palung menjadi bagian dari menit-menit yang kualami disini. Terkadang aku dapat menaklukkan tantangan tebing itu dengan sangat mudahnya, tapi tak jarang aku harus jatuh terguling dalam curamnya jurang yang menghempaskan semua kehidupanku saat itu.
Salah satu palung yang akan mungkin akan tetap membekas bagiku adalah saat aku bertemu dengannya. Seseorang yang dapat membuatku tersenyum apabila mengingat ulasan sumringah pada bibir merahnya, membuatku tertawa saat mengingat bahaknya, membuatku merasa sedih bila melihat airmatanya, membuatku letih saat melihat lelah wajahnya…… dan membuatku miris apabila mengingatnya.
Tidak ada yang istimewa dari dirinya, tidak ada sesuatu yang lebih yang dapat membuat dunia ini berhenti untuk berputar. Namun duniaku cukup bisa berhenti pada saat pertama aku melihat senyumnya. Senyum yang begitu cepat menghilang seiring berputarnya laju roda kendaraan yang membawanya entah kemana. Begitu ingin aku mendapatkan lebih lama lagi senyum itu, seiring tak berjalannya alamku saat melihatnya. Namun aku tak mampu untuk mengikutinya, karena ternyata kenyataan memaksaku untuk kembali menyusuri jalan nyata yang harus kujalani hari itu.
Selang waktu yang berlalu setelah “one simple glance from you”, aku masih terus mencari dimana aku bisa menemukannya lagi, someone who give me a first smile when I’m trying to be nice to someone around me without any reason. Tetapi bukankah tidak semua keinginan harus terwujud atau menjadi nyata saat itu juga.

Enam bulan aku disini, aku lalui kembali untuk menggenapkan langkah dan pijakkan kakiku di bumi ini. Mencoba mencari makna hidup dan terkadang perih yang telah lama ada di hati. Hmm …… perih, sakit, pedih, luka yang terkadang kupikir telah sembuh, namun ternyata ia diam menahun dan menanamkan bibit-bibit duka yang suatu saat seolah menutupi diriku dari indahnya kenyataan. Terkadang membuat ketakutan semu pada diri yang membuat surut kaki untuk kembali melangkah, dan terkadang memaksaku untuk menutup jendela jiwa yang seharusnya sudah mulai kembali kubuka guna mendapatkan sinar cinta yang mungkin bisa mengusir pengapnya ruang hatiku yang sudah mengelabu.

Pada saat tertentu, aku merindukan semua panggilan cinta yang kulihat menggapai di luar sana mengajakku untuk merasakan sedikit manis dan indahnya harmonisasi dua insan tuk memadu kasih. Kadang datang keinginan hati untuk menyambut genggaman tangan nada untuk kembali untuk menyanyikan bersama seseorang gita asmara yang mungkin akan kembali memberikan kecerahan baru dalam gelapnya hari yang kujalani selama ini. Hmmm……. Lima tahun, five “fishing” years I passed it just to heal my wound. Aku juga gak tahu, apakah selama itu aku mencoba untuk mengobati luka apa selama itu aku sudah menjadi seorang pengecut untuk memulai suatu hal yang terkadang bagiku mirip dengan perjudian dimana aku mempertaruhkan hati dan perasaanku. Ataukah memang itulah jawaban atas pertanyaan ada apa dengan lima tahunku……..

Enam bulan sudah kurasakan mentari di tempat ini merambati dan memberi kehangatan yang berbeda pada diriku, khususnya setelah aku kehilangan senyuman itu. Duhai kau yang telah memberikan senyuman pada jiwaku yang murung…… dimana kau berada ???????

……………..

episode doea

Ufff ……

Aku lihat kamu lagi

Tepat berjalan dihadapanku kini

Resah atau tepatnya gelisah

Memandang seraut wajah

Yang memang kurindu selama ini

Ufff ……

Dia lihat aku kini

Makin bimbang dan ragu jiwa ini

Rinai hujan buatku terpaku

Untuk balas semua senyumanmu

…………

Ufff ……

Begitu tenang dirimu sambut diriku

Begitu lambat kurasa waktu berlalu

Begitu pasti kau hampiriku

Begitu lembut kau sentuh aku

Ufff ……

Ingin kuubah sikapku

Ingin kugelarkan karpet merah untukmu

Ingin kubentangkan ulurku untukmu

Ingin kugamit lembut tanganmu

Ufff ……

Lagi-lagi aku berkhayal

Lagi-lagi aku bermimpi

Lagi-lagi seribu khayal ingin kusampaikan

Lagi-lagi seribu angan ingin kutanyakan

Ufff ……

Entah bagaimana caranya atau siapa yang mengatur semuanya, yang tentunya pastilah dari Yang Maha Pengatur dan Maha Pasti, aku dipertemukan kembali dengan pemilik senyuman itu dalam keadaan yang berbeda. Tidak ada senyuman yang menghiasi bibir merah yang selama ini aku rindukan, aku impikan dan aku cari setelah sekian lama.

Bibir itu terkatup rapat membentuk sudut tarik ke arah bawah bibir, sehingga membuat satu lengkungan kediaman yang beku. Ataukah kewibawaan yang kaku, yang merupakan suatu bentuk kekerasan tanpa menginginkan adanya perlawanan ???

Bibir yang terlatih untuk bisu, yang tiada bisa membuat mentari tersenyum, membuat makhluk menikmati anugrah dari Yang Maha Welas Asih untuk mendapatkan kedamaian pada bentuk mulut yang selalu terkatup rapat. Ataukah suatu bentuk perlindungan diri terhadap sesuatu yang aku pun tak pernah tahu, berlindung dari apakah hai engkau pemilik bibir yang terkatup ???

Aku tidak puas, aku memberontak, aku menjerit menyatakan protes bathinku atas kehilangan senyum dari bibir itu……… Aku cari tahu siapa dan apa serta mengapa kau harus hilangkan suatu rakhmat Allah yang Maha Pemurah. Setiap jejak aku ikuti, setiap berita aku tahui, setiap bau yang ada atau yang tertinggal dari tubuhmu aku endusi hanya agar terjawab rasa yang terlanjur menyesak karena tak terpuaskan atas sukmaku yang menolak kehilangan …………. Senyuman itu.

Duhai wanita pemilik senyum yang mampu menggetarkan sukma, akhirnya aku mengetahui semua tentangmu, namamu, dimana kamu tinggal, apa dan siapa mereka yang ada dan hadir dalam kehidupan kamu, meskipun aku harus berlindung pada topeng kebodohanku yang harus berlagak pilon dan menerima semua dustamu.

Duhai perempuan sang empu dari merekahnya bibir merah, akhirnya aku dapat menemukan dan membentuk sosok kaburmu selama ini yang tak pernah hadir jelas dalam diri ini. Dan bukanlah seberkas bayanganmu yang tak jelas, namun aku dapat mengetahui kamu secara seutuhnya dalam sandiwaraku yang seakan aku memang terlalu gampang kamu tipu dengan semua cerita dayamu.

Duhai mayang jiwa, tahukah mengapa kulakukan semua ini, karena seulas senyum yang lama aku dambakan akan hadir disana, membentang indah menghiasi dunia dan tanah ini dan melebarkan tawa sang surya yang semakin melebar, menambah kilau pada wajah dan…. Bibir yang kurindu selalu untuk dapat memberikan senyuman itu.

Apakah kamu berpikir aku akan percaya dengan bualanmu tentang pernikahanmu, sementara aku sudah mengetahui gagalnya pertunanganmu ???

Apakah kamu berpikir aku akan terlena dengan ceritamu tentang anak-anakmu, sementara aku sudah membuka buku hatimu yang sedang terluka karena kisah asmara paksa ???

Apakah kamu berpikir aku akan terbuai dengan kisahmu tentang dimana kamu menghabiskan hidup dalam keseharianmu, sementara aku sudah jauh masuk dan bergelut dalam pertanyaan tentang akan kamu bawa kemana semua yang kau punya saat ini ???

Dara puspita hati, mungkin wajahku sebodoh tampilan kaca mataku, namun aku akan tetap aku, yang selalu bermain dalam bayangan semu, di dunia yang tiada warna selain kelabu. Dunia yang tidak pernah tampak atau menampakkan diri. Dunia yang selalu dicaci dan dimaki sementara dengan dunia itulah kami pertaruhkan semua demi keutuhan dan tegaknya negara ini. Dunia yang akan membiarkan dirimu menjadi tak bernama, tanpa identitas pasti dalam menjalankan kesehariannya. Akhh … dunia yang mungkin belum pernah terbayangkan secara nyata bagi dirimu, bagi mereka dan bagi banyak manusia di negara ini. Hmmmm……. Aku mengeluhkan ini kepadamu, duhai kamu pemilik senyuman yang membuatku melayang …………

Duhai pemilik senyuman yang mampu membawaku ke nirwana tatar ke tujuh……….. tahukah engkau, aku telah jatuh dalam buaian dongeng cinta yang selama ini aku pungkiri ???????

……………..

Episode Tiga

Hari-hari indah kulalui bersama dirimu hai pemilik bibir nan merekah. Aku merasa menjadi remaja kembali yang seolah masih malu tuk ungkapkan isi hati atau sekedar menuangkan secara nyata betapa ku menginginkanmu. Bermainlah aku dengan kata-kata kias dan sikap yang bias, agar kau mengerti betapa aku membutuhkanmu. Betapa kuselalu merindukan senyumanmu, yang telah membuat bersemi kembali rasa yang telah lama tak hadir dalam keseharianku. Aku malu, yahhh…………aku malu tuk mengakui aku telah merasa nyaman berada disekitarmu, betapa kutemukan ketenanganku saat melihatmu, saat bercanda denganmu, saat aku bisa menjadi diriku, saat sukmaku tersedot oleh auramu.

Aku Bosan diam

Aku ingin berteriak lantang

Menembus segenap celah dan semua lubang

Merasuk ke ujung gendang telinga semua orang

…………………..

Aku mencintainya

…………………….

Duhai pemilik senyum yang indah, tahukah kamu betapa kamu selalu datang tuk temani anganku bermain dengan semua impianku yang kutahu semua hanya bayangan semu untukku. Duhai pemilik bibir nan merekah, sadarkah kamu betapa kamu selalu hadir tuk sejajarkan langkah asaku berjalan dengan semua khayalanku yang ku mengerti semua hanyalah kehidupan maya yang takkan nyata bagiku.

Hmmmm,……… ku coba menghela nafasku yang memberat seiring kaburnya kemungkinanku untuk dapat mendekati, mencintai dan memiliki semua mimpi indah yang kuingin mewujud dalam keseharianku. Terkadang sering kucoba menatap diri pada cermin pudar sembari berkata, “adakah dari diriku yang dapat membuatmu jatuh cinta padaku duhai pemilik senyuman indah ??? Adakah dari tampilanku di kaca ini yang dapat membuatmu menoleh dan berkata, aku pun menginginkan semua yang ku mau”

Hmmmm, ……. Lagi-lagi kuhanya bisa menarik nafas dalam sambil menahan betapa kuatnya keinginan itu memaksa diriku, melecut semua rinduku, menghantam semua angkuhku tuk mengakui bahwa aku sangat ………. Sangat menginginkanmu.

Memalukan, terkadang aku berpikir bahwa apa yang aku lakukan sangat memalukan. Betapa keras aku untuk memaksa rasa ini juga hadir pada dirimu. Betapa keras aku untuk memaksa rasa ini juga ada pada hidupmu. Dan betapa keras aku memaksa cinta ini juga ada pada hidupmu.

Tadi malam, aku coba mengadu kembali pada rembulan, entah berapa banyak keluh kesah kutitipkan pada setiap bagian dari dewi malam, aku juga tidak mau tahu apa sang bunda malam itu, sudah bosan dengan semua keluh kesahku. Satu-satunya yang aku mengerti, aku harus meledakkan semua uneg-unegku.

Dewi, sekali lagi aku ingin bertanya sama kamu (walau kamu tak pernah memberi jawaban pasti, hanya senyum saja),

masih adakah alasan buat aku untuk tetap bertahan pada keyakinan aku saat ini ???

Masih adakah alasan buat aku untuk tetap fight buat mendapatkan cinta dia……

masih adakah alasan buat aku untuk bertahan pada ketidak pastian ini hai kekasih malam ????

aku sudah merasa tidak kuat lagi, aku sudah goyang seiring dengan ketakyakinan diriku untuk mengiringi langkahnya

kalau dulu aku bisa membangkitkan semangatku dengan mengatakan

“mungkin inilah harga yang mesti aku bayar untuk bersama kamu “,

tetapi sekarang aku cuma ingin bertanya, apa memang semahal ini aku mesti membayar ???

bunda malam, salahkah aku kalau aku sudah mulai menanyakan semua ini ???

apakah naif kalo aku bertanya seperti tadi ???

bunda, tolong aku, jangan hanya tersenyum,

jangan hanya memberi jawaban semu…..

beri satu kepastian buat langkah-langkahku……..

episode empat

Hari-hari terangku telah berlalu seiring semakin mendekatnya waktu keberadaanku disini. Malam perpisahan semakin jelas menjelang aku tuk tuntaskan kehadiranku di tanah ini. Semakin berat pula beban di dada ini yang seakan terus menghimpit karena deraan keinginanku akan hadirnya dirimu secara utuh dalam hidupku. Bukan hanya kehadiran semu seperti mimpi dan bunga tidurku selama ini.

Duhai pemilik senyuman yang merekah, masih mungkinkah ada yang berubah dalam hatimu tentang aku yang selalu dambamu, hmmmm…………. Sementara detik-detik yang tersisa semakin menyiksa seperti hantaman palu ke kepalaku untuk sadarkan jiwaku yang terus mengharap sesuatu yang tak baku.

Yang Maha Kuasa, inikah skenario Mu tentang kisahku dengannya ??? Mengapa tak Kau berikan peran kepadaku dan dia hingga sandiwara kehidupanku akan berakhir dengan gembira dan penuh tawa ? Mengapa tak Kau hadirkan cinta dalam dadanya agar berbunyi tepukan rasaku sehingga bangkitkan jiwaku yang lama hening dari gemuruhnya cinta ?

Duhai pemilik senyuman yang selalu hadir dalam butir-butir darahku, mengapa aku harus terperangkap dalam pesona yang begitu membuat aku terpana dan terlena sehingga tiada kuperdulikan apakah duka dan nestapa yang akan aku terima diujung penantianku ini.

Gusti Pangeran nun Agung….

kenapa perasaanku semakin tak menentu

mengapa gejolak diri makin tak tertahankan

apa arti semua ini buat diriku

dimana letak pelajaran yang hendak Kau berikan

……………

Maha yang paling Maha ………

kenapa seperti Kau samarkan jawaban

mengapa bagaikan buta mata ini dalam kelam malam

apa yang hendak Kau berikan

dimana hendak kujabarkan

……………

Allah Sang Penguasa Sekalian Alam ………

Kenapa begitu berat kurasakan

Mengapa serasa tak sanggup kujalankan

apa lagi yang hendak kulakukan

dimana kuharus letakkan pijakkan

…………..

Tuhan, salahkah aku amat menyayangi dan merindukannya ???

maafkan aku Tuhan……………………….

episode lima

puisi tanpa kata

aksara tanpa makna

semua keajaiban yang biasanya dapat kualirkan lewat goresan pena musnah sudah

ahhh…….

haruskah aku mengeluh dan menyalahkan Sang Pencipta

ataukah kutuding dirimu yang rampas semua cita

hmmm…….

senandung tanpa irama

tembang tanpa gita

hanya kidungan lirih yang dapat kunyanyikan dari hati dengan suara parau penuh duka

episode enam

Surat buat Pemilik senyuman nan merekah,

Apabila kamu membaca surat ini, mungkin kamu akan menyadari betapa aku sangat menyayangi kamu, betapa aku sangat menginginkan aku menjadi bagian hidup kamu, sebagaimana aku menginginkan kamu menjadi bagian dari hidup aku.

Pemilik senyuman nan merekah, aku gak begitu tahu kenapa begitu berat kamu melupakan semua mimpi-mimpi kamu yang telah usai. Aku juga gak ngerti mengapa kamu tetap mempertahankan semua belenggu masa lalu pada hatimu. Sama halnya aku gak ngerti kenapa kamu membiarkan semuanya memasung hidup dan angan serta cinta yang yang kamu miliki.

Pemilik senyuman nan merekah, aku telah berusaha untuk mensejajarkan langkahku untuk menemanimu,namun kamu terlalu cepat berlari dan tak pernah membiarkanku untuk bersamamu. Terlalu naif apabila aku katakan aku bisa menemanimu sedangkan secara nyata itu sulit buatku.

Pemilik senyuman nan merekah, tidak menjadi masalah bagi diriku apabila aku harus bertarung dengan masa lalumu, apabila kau mengatakan bahwa engkau ingin aku memenangkannya. Tidak menjadi suatu aral bagiku apabila aku menunggumu asalkan kamu bilang bahwa kamu akan ada di ujung jalan penantianku. Bukanlah suatu persoalan bagiku untuk menyayangimu seumur hidupku asalkan kamu bilang bahwa kamu memang mengharapkannya.

Pemilik senyuman nan merekah, kesan yang ada adalah aku memaksakan rasa untuk tumbuh dan bersemi dalam kalbumu. Jejak yang ada adalah aku terlalu ngotot untuk menciptakan cinta yang telah hilang dalam hidupmu. Aku tidak ingin seperti itu. Yang aku inginkankan adalah kamu hadir dan bersemi bersama cinta yang memang layak untuk hadir. Kamu melayang bersama smara yang memang pantas untuk arungi. Kamu tertawa dengan semua nuansa ceria yang memang harus kamu rasakan.

Pemilik senyuman nan merekah, mungkin satu kata yang pantas aku ucapkan atas ketakberdayaanku untuk membangkitkanmu adalah aku memang tak layak atas rasamu. Aku tak berhak atas cintamu. Aku tak cukup baik untuk hadir dan mengisi hidup dan mimpi-mimpimu.

Marahkah aku Pemilik senyuman nan merekah atas perlakuanmu ??? tidak jawabnya

Murkakah aku Pemilik senyuman nan merekah atas semua jawabanmu ??? tidak jawabnya

Kesalkah aku Pemilik senyuman nan merekah atas semua tindakanmu ??? tidak jawabnya

Semua pertanyaanmu yang senada akan aku jawab tidak, tidak Pemilik senyuman nan merekah…aku rela menerimanya….aku ikhlas mendapatkannya

The most important thing, aku dapat melihatmu tertawa, aku dapat menyaksikan senyum atas bibirmu nan kudamba, aku dapat menyuakan ceria dalam hidup yang akan kau jalani.

Pemilik senyuman nan merekah, teramat banyak perasaan dan pernyataan sukma yang ingin aku lontarkan kepadamu, namun semua hanya berakhir dengan aksara tanpa ucap, kata tanpa bicara, tanya tanpa jawab………………

Pemilik senyuman nan merekah………. aku sangat menyayangi kamu………..

Episode toejoeh

Dear Pemilik senyuman nan merekah….

Aku ingin melanjutkan or ngelepasin semua uneg-uneg bathin yang tertahankan.

Pemilik senyuman nan merekah…. hari demi hari yang aku lewati sambil mencoba untuk menahan beban di dada yang semakin lama semakin menyesak, beban yang semakin tak tertahankan. Beban yang mungkin terlalu naif orang akan katakan. Kamu mau tahu beban apa itu ???? Beban menahan untuk menyayangi kamu, mencintai kamu, mengasihi kamu….dengan tulus…dengan sesungguhnya.

Pemilik senyuman nan merekah, gak pernah ada niat dalam jiwa ini untuk membuat satu torehan luka baru diatas semua duka yang telah ada dalam sanubarimu. Kalau bisa, aku malah ingin mengobati semua nelangsa bathinmu, semua rumangsa sukmamu, aku ingin borehkan air kesembuhan dengan rasa ku yang ada. Rasa akan kasih sayang yang kamu katakan telah hilang dalam kalbumu.

Pemilik senyuman nan merekah, walaupun aku selalu mengatakan tulus untuk mencintaimu, namun jauh dalam palung hatiku berkata, “aku ingin dicintai dan disayangi pula olehmu”.

Aku berdiri disini sebagai seseorang yang kasmaran yang akan berkata bahwa aku ingin mencintai kamu dengan apa adanya. Bahwa aku adalah smara yang akan berkata, aku akan menyayangimu dengan caraku, dan aku akan berkata ” no more violent now in your life !!!”

Pemilik senyuman nan merekah, berlebihankah aku jika aku memintamu untuk mempercayaiku ? berlebihankah bila aku inginkan mimpimu menjadi bagian dari mimpiku juga ? Berlebihankah bila aku inginkan menjalin jalinan atas tali sukma antara aku dengan kamu ???

Pemilik senyuman nan merekah, ingin kuteteskan air mataku untuk semua tangismu, ingin kurasakan lirihnya duka dalam senandungmu dalam setiap nada yang kunyanyikan, ingin kuresapi semua sakit yang kau alami dalam setiap tarikan dan hembusan nafasku, karena aku tahu, kamu berhak sekali lagi kamu memang berhak untuk melukiskan semua keindahan dunia pada lukisan kehidupan yang sedang kamu jalani saat ini.

Pemilik senyuman nan merekah, apa yang harus kubuktikan kepadamu agar kamu bisa mempercayai semua kata-kataku ??? Apa yang harus aku lakukan untuk kamu agar kamu bisa mengerti semua tindakan-tindakanku ???? Apa yang harus aku…………….

arghhhhh…………….

terlalu banyak, terlalu banyak…..

aku tidak sanggup lagi……

namun aku masih ingin menyayangi kamu….

aku masih ingin bermain dengan bayang-bayang kesetiaan semu diriku atas semua kasih yang kuberikan padamu….

episode delapan

jess….

sebatang rokok kunyalakan lagi

hmmm….

kau selalu ada disampingku

kau tak pernah menjauhi dirimu

andaikan dapat, aku yang menjauhi dirimu

tik…tik…

detak jarum jam semakin berpacu

mengejar waktu yang akan datang

sementara aku masih berkutat dalam kenangan

…….

kenangan siapakah yang kumiliki ini ???

milikmu ?

milikku ?

apabila milikmu, mengapa kau tak pernah berikan tanda

bahwa kau pun mengingatnya…

namun jika itu milikku, mengapa tak dapat kuletakkan ia di dibelakang

agar dapat kurengkuh satu cerita baru

huhhh……..

sekali lagi kuhirup nafas panjang

agar terasa sedikit lega hati resah ini

supaya ada sedikit rongga dalam dada yang dapat membuatku mampu menghisap lebih banyak udara

agar otak bekuku dapat kembali berpikir normal

……

hmmm……

apa rahasia-Mu dibalik semua ini ?????

episode kesembilan

Pemilik senyuman nan merekah, aku meradang dan mencoba bertahan dari kematian rasa yang akan aku alami. Perasaan yang baru saja lahir kembali dan kuharapkan mampu untuk bangkit dari keterpurukannya kembali harus mati mengenaskan dan kembali bersemayam dalam rundungan duka, rintihan nelangsa, dan amarahnya cinta dan dendam asmara.

Mungkin ini satu suratan jalan yang harus kuhadapi, dimana aku hanyalah penjaga kebun bunga mawar, dimana aku yang merawat, aku yang menyirami, namun aku bukanlah pemiliknya. Aku hanya dapat memandangi dengan segala rasa namun aku tak pernah dapat untuk memilikinya. Jujur, apabila memang itulah adanya, aku merasakan getir sekali ini bagiku.

Pemilik senyuman nan merekah, mungkin harus kulepas jiwa yang menyayangimu, mengasihimu untuk kembali ke haribaan-Nya, dan menunggu kapan akan datang lagi atau lahir kembali untuk ber-reinkarnasi menunggu belahan jiwa yang entah ada dimana dia berada.

Kemenjauhanku dari angan dan mimpiku, telah kulakukan untukmu. Untuk membuktikan rasa sebenarnya yang ada ataukah untuk memperlihatkan kebodohan sukma atas tekanan smara yang terlalu membarakah, aku tak pernah tahu.

Pemilik senyuman nan merekah, apabila kamu membaca guritan aksara ini, mungkin aku akan mencoba melangkah jauh di di luar mayapada ini, berjalan kembali di alam kesunyian yang kurasa makin hampa, makin jauh dari peradaban dongeng cinta dua manusia yang tak pernah kurasakan keberadaannya.

copy from : blue fame

One Response

  1. Keren banget nih cerpen, buat saat ini nyentuh dan kena banget ma keadaan ku.. mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: