Seandainya aku dulu diaborsi …. Mungkin aku …..

Pikiran itu yang selalu muncul diotakku yang sedang kacau. Seharian aku berpikir hal itu, meskipun banyak kegiatan yang aku lakukan, mulai dari mandi, makan, nonton tv, tertawa, bahkan sampe sore ini ketika aku pulang mengajar les anak anak orang kaya yang ingin belajar bicara cas cis cus cos ces. Dan sampai saat aku mengakhiri hariku, aku masih berpikiran sama ketika aku bangun tadi pagi

Seandainya aku dulu diaborsi ….
Mungkin aku …..

Yang membuatku sedikit bangga adalah aku belum terpikir untuk bunuh diri !!! karena aku anggap ada yang lebih berhak untuk membunuhku dengan sah suatu saat nanti, ketika Ia menganggap sudah pantas dan cukup apa yang aku dapatkan didunia ini tanpa berdiskusi dulu dengan perasaanku tentang “pantas dan cukup”.
Bicara soal “pantas dan cukup” aku jadi berpikir, pantaskah aku diaborsi sehingga aku tidak pantas untuk hidup? Atau sebaliknya aku memang pantas untuk hidup? Kurasa jawabannya sudah jelas, aku sudah hidup 24 tahun. Tinggal menunggu sampai tahun keberapa aku pantas menikmati hidupku, cukup atau gak cukup!!!

Andai aku dulu diaborsi, apakah aku langsung masuk surga? Kalo ya, aku pilih diaborsi aja, Enak khan, aku tidak harus berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi mimpi semua orang tanpa harus berusaha ditempat yang namanya dunia. Aku tinggal menunggu waktu ketika manusia manusia penuh dosa dipanggil Dia untuk “mempertanggungjawabkan” kenyataan, keputusan, dan konsekuensi yang mereka perbuat didunia. Aku mengisi waktu yang sudah pasti luang dengan menikmati semua kesenangan yang ada di surga. Aku akan minta semua yang aku inginkan dan semua yang dimiliki orang yang hidup didunia bawah. Sehingga aku bisa merasakan kenikmatan dobel, surga dunia akhirat !!!

Kalo benar begitu, setiap istriku hamil (nanti kalo punya kesempatan kawin) aku akan menyuruhnya aborsi, biar anakku masuk surga semua. Biarlah aku menyusul nanti setelah aku dan istriku mampir dulu di perapian untuk menghanguskan dosa dosaku selama didunia karena aku memang pantas untuk mendapatkannya. Barulah aku bisa melihat wajah anak anakku yang belum sempat kulihat saat didunia dan berkumpul bersama hidup bahagia selamanya.
Dan kalo semua itu bener, aku jamin tidak akan ada kejadian orang nikah karena hamil, pasti karena dijodohkan, atau karena mereka saling cinta.
Karena pasti mereka lebih suka meng-aborsi anak mereka daripada kawin tapi ga ikhlas. Lagian kalo hamil lagi kan tinggal aborsi lagi. Gampang khan …
Tapi apa bener, kalo diaborsi langsung masuk surga ???
kalo gak? Nah loh …

Kalo memang aturannya gak bisa dan gak boleh, omongan mas doni pantas dijadikan reverensi “haruskah kurelakan hidupku….. hanya demi “surga” yang mungkin bisa membunuhku….”
Aku mungkin akan menyuruh istriku untuk punya anak 2 saja, kayak anjuran pemerintah (nanti kalo punya kesempatan kawin). Atau terserah keputusan kami bersama, yang jelas sesuai kemampuan khan…
Dan aku hanya bisa dan harus berusaha menjalani hidup ini sesuai dengan kemauan Dia. Menikmati apa yang telah diberikan dengan bersyukur dan bersabar. Itu teori !!! kenyataan, aku lebih banyak menikmati semua yang Dia beri dengan mengeluh, kurang ini kurang itu, terlalu ini terlalu itu, jangan ini jangan itu, pokoknya gak pernah puas. Apalagi sekarang, disaat otakku lagi kacau oleh pikiran

Seandainya aku dulu diaborsi ….
Mungkin aku …..

Seandainya aku dulu jadi diaborsi, entah masuk surga atau ga, aku tidak perlu menangis merasakan kenyataan yang tak pernah sama dengan keinginan. Aku tidak perlu menyesal disaat aku salah mengambil keputusan. Aku tidak perlu berusaha akan semua konsekuensi yang miliki. Dan lainnya, dan lainnya …

Tapi aku tidak bisa merasakan bagaimana hidup itu, aku tidak bisa tahu seperti apa rasanya menangis karena sedih, tidak bisa tertawa karena senang. Bagaimana rasanya menyesali perbuatan dan bangga karena keputusan terbaik kita. Bagaimana kristalisasi keringat (kata tukul) membuat kita puas dan berusaha untuk lebih baik ketika kita gagal.
Seandainya aku bisa memilih, aku ingin hidup didunia ini sampai pantas untuk Dia jemput. Tapi aku tidak berhak untuk memilih. ini adalah keputusan Dia. Bahwa aku tidak jadi diaborsi !!! aku harus menjalani hidup ini, suka atau gak.
Sudah larut malam dan aku belum bisa memejamkan mataku … entah apa yang masih kutunggu … semua sudah jelas (mungkin).
Aku tidak diaborsi dan sekarang aku harus tidur.

============================

Aku terbangun … aku sadar aku masih bisa terbangun ….
Hal pertama yang ada dalam pikiranku, kenapa aku tidak tahu kapan aku tidur… yang kuingat malam itu aku berkhayal gak karuan melayani otakku yang lagi kacau…
Aku langsung meraih HP dan MissCall kamu, sebelum beranjak mandi dan menghadapi hari ini tuuut …tuuut …tuuut….
Aku bersyukur aku tidak diaborsi 24 tahun lalu, karena kuyakin, tangis akan membuat kita lebih bijak dan kebahagiaan akan menjadi semangat ketika kita menangis. Aku bersyukur bisa mempunyai dan merasakan arti hidup sebelum Dia memanggilku. Dan satu hal yang TIDAK MUNGKIN kulakukan jika aku diaborsi 24 tahun lalu, mengenal, mengerti, dan menjadikanmu,
khulasoh, sebagai orang kedua yang kusayang dan berarti dalam hatiku. Dan meski kamu belum bisa merasakannya …

22 maret 2007, 12.00 p.m.
copy of : blue fame

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: